Mr. Darby menyaksikan sesuatu yang membuktikan bahwa tidak tak selalu berati TIDAK. Berikut kisah yang dipetik dari laman buku THE NEW THINK AND GROW RICH.
Suatu sore, dia (Mr. Daby: Pen) sedang membantu pamannya menggiling gandum di sebuah penggilingan tua. Pamannya mengelola sebuah pertanian besar yang ditinggali oleh banyak petani bagi hasil.
Perlahan-lahan pintu terbuka dan seorang anak kecil, anak perempuan seorang penyewa, berjalan masuk dan berdiri dekat pintu.
Sang paman mendongak, melihat anak itu, dan membentaknya dengan kasar, "Apa yang kau inginkan?"
Dengan tenang anak itu menjawab, "Ibuku menginginkan jatah lima sennya."
"Enak saja," semprot sang paman. "Sekarang pulang sana!"
Namun anak itu tidak bergerak.
Sang paman kembali melanjutkan pekerjaannya, tidak memperhatikan kalau anak itu tidak beranjak. Ketika dia mendongak lagi, dan melihat anak itu masih berdiri di sana, dia berkata, "Sudah kubilang, pulang sana! Pergi, kalau tidak kupukul kau."
Tetapi anak itu masih bergeming.
Sang paman menjatuhkan kantong gandum yang hendak dia tuangkan ke dalam corong tuang penggilingan, dan mulai berjalan ke arah anak itu.
Darby menahan napas. Dia tahu pamannya sangat mudah naik darah.
Ketika pamannya mencapai titik tempat anak itu berdiri, anak itu dengan cepat maju satu langkah. Menatap mata paman Darby, dan menjerit keras-keras, "Ibuku harus mendapatkan lima sen itu!"
Sang paman berhenti, memandang anak itu selama satu menit. Memasukkan tangan ke dalam sakunya, mengambil uang setengah dolar dan memberikannya kepada anak itu.
Anak itu mengambil uang tersebut dan pelan-pelan mundur ke pintu. Dia tidak pernah melepaskan tatapannya dari laki laki yang baru saja dia takhlukkan. Setelah anak itu pergi, paman Darby duduk di atas sebuah kotak dan memandang ke luar jendela sambil melamun selama lebih dari 10 menit. Dia sedang merenungkan kekalahan yang baru saja diterimanya. Takjub.
Mr. Darby sendiri juga merenung. Untuk pertama kali dalam hidupnya dia melihat seorang anak dengan sengaja mengalahkan seorang dewasa. Bagaimana anak itu bisa melakukannya? Apa yang terjadi pada paman Darby sehingga dia kehilangan kegalakannya dan menjadi sejinak anak domba? Kekuatan aneh apa yang digunakan anak itu sehingga membuatnya menguasai keadaan?
Pertanyaan-pertanyaan itu berkelabat dalam benak Darby, tetapi baru bertahun-tahun kemudian dia menemukan jawabannya, ketika dia menyampaikan kisah tersebut kepada saya (Mr. Carnegie: Pen).
Uniknya, kisah pengalaman yang tidak biasa ini disampaikan kepada saya (Mr. Carnegie: Pen) di penggilingan tua itu, di lokasi tempat paman darby menerima kekalahannya.
Mr. Darby menjelaskan: "Setiap kali seorang calon pembeli berusaha menarik diri dari saya, tanpa melakukan pembelian, saya melihat anak itu berdiri di penggilingan tua ini, dengan mata besarnya yang melotot menantang, dan saya berkata dalam hati, 'Saya harus berhasil menjual asuransi ini'. Sebagian besar penjualan yang telah saya lakukan berasal dari orang-orang yang mengatakan tidak."
Mr. Darby juga teringat kesalahannya, yaitu berhenti hanya tiga kaki dari emas (klik di sini untuk baca kisahnya). "Tapi," katanya, "pengalaman itu adalah suatu berkah di balik bencana. Mengajari saya untuk terus berusaha, sesukar apa pun keadaannya—suatu pelajaran yang perlu saya pelajari sebelum saya bisa sukses dalam hal apa pun." ~ Sang Trisila ~
Sumber: THE NEW THINK AND GROW RICH
Tidak ada komentar:
Posting Komentar